ORBIT EKONOMI SUMBERDAYA ALAM
Oleh: Miqdam Awwali Hashri*
Dahulu, sebelum ilmu pengetahuan di bidang astronomi berkembang pesat seperti sekarang ini, sebagian besar manusia percaya bahwa pusat tata surya ini adalah bumi. Teori ini dikenal sebagai teori Geocentric yang dicetuskan oleh Ptolemeus pada abad sebelum masehi, yang beranggapan bahwa seluruh benda langit berputar mengelilingi bumi termasuk di dalamnya matahari, bulan, dan planet-planet lainnya. Hal ini didukung oleh pemuka agama di Eropa dan menjadi dogma agama yang kuat pada saat itu.
Pada abad ke-16 seorang astronom berkebangsaan Polandia, Nicolaus Copernicus, membantah teori Geocentric dengan mengeluarkan sebuah buku yang berjudul De Revolutionibus Orbium Coelestium (Tentang Revolusi Bulatan Benda-Benda Langit). Di dalam buku tersebut Copernicus mengatakan bahwa bumi, dan planet-planet yang lain berputar mengelilingi matahari. Dia juga mengatakan bahwa bumi berputar pada porosnya yang menyebabkan terjadinya gerak semu matahari pada siang hari. Teori ini dikenal sebagai teori Heliocentric yang berprinsip bahwa matahari adalah pusat tata surya.
Perkembangan teori-teori astronomi yang telah disebutkan di atas, ternyata hampir sama dengan yang terjadi pada ilmu ekonomi. Ekonomi neo-clasic yang telah berkembang sampai saat ini memandang bahwa ekonomi merupakan pusat aktivitas dari kegiatan umat manusia. Termasuk didalamnya adalah sumberdaya alam (resource capital). Paradigma ini hampir sama dengan pandangan Ptolemeus mengenai geocentric. Maka akibatnya adalah kegiatan ekonomi tidak dapat menangkap adanya kerusakan lingkungan dan tidak memiliki kepekaan atas penurunan kualitas lingkungan yang disebabkan oleh pembangunan di bidang ekonomi.
Seperti yang telah kita ketahui, sumberdaya alam yang menjadi faktor produksi harus dapat memberikan pelayanannya kepada kegiatan ekonomi secara penuh. Padahal, sumberdaya alam sendiri memiliki batas tertentu dalam memberikan pelayanannya. Ibarat sebuah mesin, jika mesin tersebut digunakan terusmenerus maka mesin tersebut akan panas dan rusak.
Pertumbuhan ekonomi di dunia tumbuh dengan pesat. Pada tahun 1950, output ekonomi global hanya mencapai US$ 6 triliyun, dan pada tahun 2000 meningkat hingga mencapai US$ 43 triliyun. Hanya dalam kurun waktu 50 tahun terjadi peningkatan lebih dari tujuh kali lipat. Peningkatan yang luar biasa.
Namun dibalik semua itu ada suatu kontradiksi. Ketika pertumbuhan ekonomi meningkat begitu pesat, di sisi lain sumberdaya alam mengalami penurunan kualitas yang sangat memperihatinkan. Penurunan kualitas lingkungan ini belum pernah terjadi sebelumnya. Dapat kita lihat, hutan yang dulu hijau dan asri sekarang menjadi ladang tandus. Sungai yang dahulu selalu mengalir dan jernih, sekarang kering dan keruh. Udara segar yang dahulu kita hirup di pagi hari, sekarang telah berganti dengan asap dan polusi. Cuaca yang dahulu sejuk dan segar, sekarang telah menjadi panas dan gersang. Entah bagaimana lagi menggambarkan keadaan lingkungan sekarang ini.
Degradasi lingkungan bukan hanya sebuah wacana, melainkan sebuah fakta yang ada di depan mata kita. Bukan kita saja yang mengalami, namun hampir sebagian besar penduduk bumi mengalaminya baik langsung maupun tidak langsung. Bencana banjir dan kekeringan di saat yang sama menjadi bukti bahwa keadaan lingkungan kita sudah tidak seimbang lagi. Bahkan dalam lingkup lokal, seperti yang terjadi di indonesia, ada sebagian wilayah di negeri ini yang menunda masa tanam padinya karena kekeringan sedangkan di bagian wilayah lainnya justru gagal panen akibat banjir. Sangat ironis.
Pada masa-masa pemerintahan sebelumnya, pembangunan dan pertumbuhan ekonomi digenjot dengan segala macam cara. Pada tahun 1960an, pemerintah sedang mengalami kebimbangan untuk menentukan cara bagaimana untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Akhirnya, pemerintah mengeskploitasi sumberdaya alam, terutama hutan untuk dijadikan modal awal pertumbuhan ekonomi. Ternyata yang terjadi adalah kerusakan akan sumberdaya alam terutama hutan itu sendiri semakin meningkat. Pembalakan liar (illegal loging) semakin meluas bahkan menurut penelitian laju deforestrasi (penggundulan hutan) adalah satu hektar permenit atau hampir dengan luas lapangan sepak bola.
Contoh yang dapat kita lihat secara langsung adalah seperti rutinnya banjir yang melanda ibukota Jakarta. Banjir di Jakarta ibarat sudah seperti langganan yang tiap tahun datang dan ironisnya tidak pernah ada solusi yang tepat untuk memecahkannya. Cara-cara yang dilakukan juga bersifat jangka pendek seperti membuat gorong-gorong, Banjir kanal, pengerukan, dan lain sebagainya. Seharusnya perlu ada langkah jangka panjang dan komprehensif seperti tata kelola kawasan catchment area dipuncak merupakan tanggung jawab antarwilayah.
Banyak orang tahu bahwa banjir di jakarta adalah disebabkan cathcment area (daerah tangkapan air hujan) yang ada dikawasan puncak Bogor telah berubah menjadi villa-villa megah. Ironisnya, pemilik villa-villa tersebut kebanyakan adalah penduduk Jakarta. Jadi sebenarnya penduduk Jakarta itu sendirilah yang berkontribusi besar terhadap banjir yang melanda Jakarta. Akan tetapi, orang-orang yang memiliki villa tersebut tidak pernah merasakan banjir karena yang merasakan banjir adalah orang-orang miskin yang tinggal dibantaran sungai karena sungai tersebut meluap.
Penyebab lain dari banjir di Jakarta adalah berubahnya daerah resapan air di Jakarta menjadi pusat pertokoan atau mall dan pemukiman. Inilah dampak jika hukum alam di lawan. Daerah resapan air yang memiliki permukaan yang lebih rendah dibandingkan daerah sekelilingnya menjadi genangan saat hujan. Hal ini banyak terjadi, padahal daerah tersebut jauh dari sungai. Kita harus sadar bahwa kejahatan terhadap lingkungan akan kembali lagi pada diri kita.
Jika kita hitung kerugian akibat banjir yang terjadi di Jakarta maka kerugian tersebut sangat besar jika dibanding dengan pertumbuhan ekonomi yang ada. Kerugian yang dihitung bukan sekedar materi yang hilang atau rusak melaikan juga kerugian immaterial seperti hilangnya pekerjaan, tingkat stress, rasa was-was, bahkan biaya perbaikan lingkungan juga dihitung. Bayangkan saja, gara-gara banjir banyak sekolah-sekolah yang diliburkan, padahal anak didik merupakan aset yang berharga.
Awal dari kehancuran ini, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, adalah salah dalam memandang paradigma. Ekonomi seakan-akan hanya kepentingan “perut” dan kepuasan individu sehingga menyebabkan kerusakan sumberdaya alam. Jika lebih dalam lagi, masalah “perut” ini berawal dari keinginan atau nafsu yang tidak terkontrol. Salah satu konsep yang selalu ditekankan dalam ilmu ekonomi konvensional bagaimana cara untuk memaksimalkan kepuasan individu. Inilah yang mendorong manusia untuk berisikap rakus dan tamak dalam memanfaatkan sumberdaya alam yang telah diberikan oleh Allah swt kepada umat manusia.
Pada tahun 1776 terbitlah buku fenomenal yang berjudul An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations yang ditulis oleh Adam Smith, seorang Profesor kelahiran Skotlandia yang dikenal sebagai bapak ekonomi. Buku ini menjadi buku wajib bagi ekonom kapitalis. Adam Smith berpendapat bahwa individu tahu apa yang terbaik baginya sehingga tidak perlu adanya intervensi dari pemerintah. Itulah mengapa ekonomi kapitalis dicirikan oleh privatisasi baik berupa satu perusahaan, korporasi, maupun individu sendiri. Hal inilah yang menimbulkan sikap individualis mementingkan urusan sendiri.
Setelah dampak kerusakan lingkungan yang cukup besar yang ditimbulkan dari aktivitas ekonomi, manusia mulai sadar bahwa bukanlah ekonomi sebagai pusat aktivitas kehidupan. Akan tetapi, ekonomi dan sumberdaya merupakan komponen yang sama yang mengorbit pada pusat yang sama. Paradigma ekonomi harus dirubah agar manusia mulai menghargai sumberdaya alam. Sumberdaya alam tidak diberikan secara gratis bagi umat manusia, melaikan diberikan jika manusia dapat menggunakannya secara arif dan bijaksana.
Untuk dapat mengetahui posisi manusia, kita harus mengetahui tugas utama manusia di muka bumi. Hal ini sangat penting karena merupakan mind set awal dalam memandang sumberdaya beserta apa saja yang ada di dunia ini. Dengan demikian jelaslah bahwa tugas utama dari manusia adalah sebagai wakil Allah dalam mengelola sumberdaya alam dan sebagai hamba Allah yang senantiasa mengabdi kepada Allah.
Awal berpikir inilah yang dapat mendorong manusia bersikap arif dalam mengelola sumberdaya alam tanpa ada niat dan usaha untuk merusaknya karena manusia, ekonomi, dan sumberdaya merupakan komponen yang sejajar yang sama-sama mengorbit pada pusat yang sama. Paradigma yang harus dibangun adalah paradigma berpikir bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang tunduk dan patuh. Manusia tidak dapat berkehendak “seenak perutnya”.
Banyak contoh yang telah menggambarkan bagaimana jika seandainya sumberdaya alam tersebut dieksploitasi tanpa memperhatikan kelestariaanya dan bahkan dampak yang ditimbulkannya sangat besar hingga memusnahkan suatu bangsa. Contohnya adalah kaum Tsamud. Kaum Tsamud diberi nikmat oleh Allah, yaitu berupa kesuburan lahannya sehingga dapat menanam buah-buahan segar dan bahkan dengan bentuk tubuhnya yang besar dan kuat, mereka dapat membuat bangunan atau rumah di gunung-gunung dan dari batu-batu gunung tersebut. Karena mereka durhaka terhadap Allah, maka Allah timpakan azab yang pedih dengan meruntuhkan rumah-rumah mereka dan ditimpakan suara yang sangat keras hingga mereka mati bergelimpangan. Mungkin hampir sama dengan keadaan kita sekarang yang membuat rumah di gunung-gunung di daerah hulu sehingga air tidak dapat masuk ke dalam tanah melaikan justru menjadi bencana banjir di daerah hilir.
Alangkah baiknya kita mengambil hikmah dari kisah-kisah tersebut. Kemaksiatan bukan saja mengenai zina, khamr, membunuh, merampok, dsb. Akan tetapi membuang sampah sembarang, menjarah hutan, mencemari sungai, dan mengeksploitasi sumberdaya alam dengan brutal juga merupakan kemaksiatan. Patut kita bertanya, mengapa banjir terjadi? Mengapa kelangkaan air bersih terjadi? Mengapa produksi pertanian kita menurun? Mengapa banyak terjadi gizi buruk? Mengapa semburan lumpur lapindo terjadi? Jawabannya sederhana, karena kita tidak patuh dan tunduk kepada Allah dan kita tidak bertanggung jawab atas sumberdaya alam yang telah diamanahkan kepada kita. “Apakah kamu tidak berpikir?”(Q.S 2:44)
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”
(Q.S Al-A’raaf 96)
* Mahasiswa Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan IPB
Oleh: Miqdam Awwali Hashri*
Dahulu, sebelum ilmu pengetahuan di bidang astronomi berkembang pesat seperti sekarang ini, sebagian besar manusia percaya bahwa pusat tata surya ini adalah bumi. Teori ini dikenal sebagai teori Geocentric yang dicetuskan oleh Ptolemeus pada abad sebelum masehi, yang beranggapan bahwa seluruh benda langit berputar mengelilingi bumi termasuk di dalamnya matahari, bulan, dan planet-planet lainnya. Hal ini didukung oleh pemuka agama di Eropa dan menjadi dogma agama yang kuat pada saat itu.
Pada abad ke-16 seorang astronom berkebangsaan Polandia, Nicolaus Copernicus, membantah teori Geocentric dengan mengeluarkan sebuah buku yang berjudul De Revolutionibus Orbium Coelestium (Tentang Revolusi Bulatan Benda-Benda Langit). Di dalam buku tersebut Copernicus mengatakan bahwa bumi, dan planet-planet yang lain berputar mengelilingi matahari. Dia juga mengatakan bahwa bumi berputar pada porosnya yang menyebabkan terjadinya gerak semu matahari pada siang hari. Teori ini dikenal sebagai teori Heliocentric yang berprinsip bahwa matahari adalah pusat tata surya.
Perkembangan teori-teori astronomi yang telah disebutkan di atas, ternyata hampir sama dengan yang terjadi pada ilmu ekonomi. Ekonomi neo-clasic yang telah berkembang sampai saat ini memandang bahwa ekonomi merupakan pusat aktivitas dari kegiatan umat manusia. Termasuk didalamnya adalah sumberdaya alam (resource capital). Paradigma ini hampir sama dengan pandangan Ptolemeus mengenai geocentric. Maka akibatnya adalah kegiatan ekonomi tidak dapat menangkap adanya kerusakan lingkungan dan tidak memiliki kepekaan atas penurunan kualitas lingkungan yang disebabkan oleh pembangunan di bidang ekonomi.
Seperti yang telah kita ketahui, sumberdaya alam yang menjadi faktor produksi harus dapat memberikan pelayanannya kepada kegiatan ekonomi secara penuh. Padahal, sumberdaya alam sendiri memiliki batas tertentu dalam memberikan pelayanannya. Ibarat sebuah mesin, jika mesin tersebut digunakan terusmenerus maka mesin tersebut akan panas dan rusak.
Pertumbuhan ekonomi di dunia tumbuh dengan pesat. Pada tahun 1950, output ekonomi global hanya mencapai US$ 6 triliyun, dan pada tahun 2000 meningkat hingga mencapai US$ 43 triliyun. Hanya dalam kurun waktu 50 tahun terjadi peningkatan lebih dari tujuh kali lipat. Peningkatan yang luar biasa.
Namun dibalik semua itu ada suatu kontradiksi. Ketika pertumbuhan ekonomi meningkat begitu pesat, di sisi lain sumberdaya alam mengalami penurunan kualitas yang sangat memperihatinkan. Penurunan kualitas lingkungan ini belum pernah terjadi sebelumnya. Dapat kita lihat, hutan yang dulu hijau dan asri sekarang menjadi ladang tandus. Sungai yang dahulu selalu mengalir dan jernih, sekarang kering dan keruh. Udara segar yang dahulu kita hirup di pagi hari, sekarang telah berganti dengan asap dan polusi. Cuaca yang dahulu sejuk dan segar, sekarang telah menjadi panas dan gersang. Entah bagaimana lagi menggambarkan keadaan lingkungan sekarang ini.
Degradasi lingkungan bukan hanya sebuah wacana, melainkan sebuah fakta yang ada di depan mata kita. Bukan kita saja yang mengalami, namun hampir sebagian besar penduduk bumi mengalaminya baik langsung maupun tidak langsung. Bencana banjir dan kekeringan di saat yang sama menjadi bukti bahwa keadaan lingkungan kita sudah tidak seimbang lagi. Bahkan dalam lingkup lokal, seperti yang terjadi di indonesia, ada sebagian wilayah di negeri ini yang menunda masa tanam padinya karena kekeringan sedangkan di bagian wilayah lainnya justru gagal panen akibat banjir. Sangat ironis.
Pada masa-masa pemerintahan sebelumnya, pembangunan dan pertumbuhan ekonomi digenjot dengan segala macam cara. Pada tahun 1960an, pemerintah sedang mengalami kebimbangan untuk menentukan cara bagaimana untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Akhirnya, pemerintah mengeskploitasi sumberdaya alam, terutama hutan untuk dijadikan modal awal pertumbuhan ekonomi. Ternyata yang terjadi adalah kerusakan akan sumberdaya alam terutama hutan itu sendiri semakin meningkat. Pembalakan liar (illegal loging) semakin meluas bahkan menurut penelitian laju deforestrasi (penggundulan hutan) adalah satu hektar permenit atau hampir dengan luas lapangan sepak bola.
Contoh yang dapat kita lihat secara langsung adalah seperti rutinnya banjir yang melanda ibukota Jakarta. Banjir di Jakarta ibarat sudah seperti langganan yang tiap tahun datang dan ironisnya tidak pernah ada solusi yang tepat untuk memecahkannya. Cara-cara yang dilakukan juga bersifat jangka pendek seperti membuat gorong-gorong, Banjir kanal, pengerukan, dan lain sebagainya. Seharusnya perlu ada langkah jangka panjang dan komprehensif seperti tata kelola kawasan catchment area dipuncak merupakan tanggung jawab antarwilayah.
Banyak orang tahu bahwa banjir di jakarta adalah disebabkan cathcment area (daerah tangkapan air hujan) yang ada dikawasan puncak Bogor telah berubah menjadi villa-villa megah. Ironisnya, pemilik villa-villa tersebut kebanyakan adalah penduduk Jakarta. Jadi sebenarnya penduduk Jakarta itu sendirilah yang berkontribusi besar terhadap banjir yang melanda Jakarta. Akan tetapi, orang-orang yang memiliki villa tersebut tidak pernah merasakan banjir karena yang merasakan banjir adalah orang-orang miskin yang tinggal dibantaran sungai karena sungai tersebut meluap.
Penyebab lain dari banjir di Jakarta adalah berubahnya daerah resapan air di Jakarta menjadi pusat pertokoan atau mall dan pemukiman. Inilah dampak jika hukum alam di lawan. Daerah resapan air yang memiliki permukaan yang lebih rendah dibandingkan daerah sekelilingnya menjadi genangan saat hujan. Hal ini banyak terjadi, padahal daerah tersebut jauh dari sungai. Kita harus sadar bahwa kejahatan terhadap lingkungan akan kembali lagi pada diri kita.
Jika kita hitung kerugian akibat banjir yang terjadi di Jakarta maka kerugian tersebut sangat besar jika dibanding dengan pertumbuhan ekonomi yang ada. Kerugian yang dihitung bukan sekedar materi yang hilang atau rusak melaikan juga kerugian immaterial seperti hilangnya pekerjaan, tingkat stress, rasa was-was, bahkan biaya perbaikan lingkungan juga dihitung. Bayangkan saja, gara-gara banjir banyak sekolah-sekolah yang diliburkan, padahal anak didik merupakan aset yang berharga.
Awal dari kehancuran ini, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, adalah salah dalam memandang paradigma. Ekonomi seakan-akan hanya kepentingan “perut” dan kepuasan individu sehingga menyebabkan kerusakan sumberdaya alam. Jika lebih dalam lagi, masalah “perut” ini berawal dari keinginan atau nafsu yang tidak terkontrol. Salah satu konsep yang selalu ditekankan dalam ilmu ekonomi konvensional bagaimana cara untuk memaksimalkan kepuasan individu. Inilah yang mendorong manusia untuk berisikap rakus dan tamak dalam memanfaatkan sumberdaya alam yang telah diberikan oleh Allah swt kepada umat manusia.
Pada tahun 1776 terbitlah buku fenomenal yang berjudul An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations yang ditulis oleh Adam Smith, seorang Profesor kelahiran Skotlandia yang dikenal sebagai bapak ekonomi. Buku ini menjadi buku wajib bagi ekonom kapitalis. Adam Smith berpendapat bahwa individu tahu apa yang terbaik baginya sehingga tidak perlu adanya intervensi dari pemerintah. Itulah mengapa ekonomi kapitalis dicirikan oleh privatisasi baik berupa satu perusahaan, korporasi, maupun individu sendiri. Hal inilah yang menimbulkan sikap individualis mementingkan urusan sendiri.
Setelah dampak kerusakan lingkungan yang cukup besar yang ditimbulkan dari aktivitas ekonomi, manusia mulai sadar bahwa bukanlah ekonomi sebagai pusat aktivitas kehidupan. Akan tetapi, ekonomi dan sumberdaya merupakan komponen yang sama yang mengorbit pada pusat yang sama. Paradigma ekonomi harus dirubah agar manusia mulai menghargai sumberdaya alam. Sumberdaya alam tidak diberikan secara gratis bagi umat manusia, melaikan diberikan jika manusia dapat menggunakannya secara arif dan bijaksana.
Untuk dapat mengetahui posisi manusia, kita harus mengetahui tugas utama manusia di muka bumi. Hal ini sangat penting karena merupakan mind set awal dalam memandang sumberdaya beserta apa saja yang ada di dunia ini. Dengan demikian jelaslah bahwa tugas utama dari manusia adalah sebagai wakil Allah dalam mengelola sumberdaya alam dan sebagai hamba Allah yang senantiasa mengabdi kepada Allah.
Awal berpikir inilah yang dapat mendorong manusia bersikap arif dalam mengelola sumberdaya alam tanpa ada niat dan usaha untuk merusaknya karena manusia, ekonomi, dan sumberdaya merupakan komponen yang sejajar yang sama-sama mengorbit pada pusat yang sama. Paradigma yang harus dibangun adalah paradigma berpikir bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang tunduk dan patuh. Manusia tidak dapat berkehendak “seenak perutnya”.
Banyak contoh yang telah menggambarkan bagaimana jika seandainya sumberdaya alam tersebut dieksploitasi tanpa memperhatikan kelestariaanya dan bahkan dampak yang ditimbulkannya sangat besar hingga memusnahkan suatu bangsa. Contohnya adalah kaum Tsamud. Kaum Tsamud diberi nikmat oleh Allah, yaitu berupa kesuburan lahannya sehingga dapat menanam buah-buahan segar dan bahkan dengan bentuk tubuhnya yang besar dan kuat, mereka dapat membuat bangunan atau rumah di gunung-gunung dan dari batu-batu gunung tersebut. Karena mereka durhaka terhadap Allah, maka Allah timpakan azab yang pedih dengan meruntuhkan rumah-rumah mereka dan ditimpakan suara yang sangat keras hingga mereka mati bergelimpangan. Mungkin hampir sama dengan keadaan kita sekarang yang membuat rumah di gunung-gunung di daerah hulu sehingga air tidak dapat masuk ke dalam tanah melaikan justru menjadi bencana banjir di daerah hilir.
Alangkah baiknya kita mengambil hikmah dari kisah-kisah tersebut. Kemaksiatan bukan saja mengenai zina, khamr, membunuh, merampok, dsb. Akan tetapi membuang sampah sembarang, menjarah hutan, mencemari sungai, dan mengeksploitasi sumberdaya alam dengan brutal juga merupakan kemaksiatan. Patut kita bertanya, mengapa banjir terjadi? Mengapa kelangkaan air bersih terjadi? Mengapa produksi pertanian kita menurun? Mengapa banyak terjadi gizi buruk? Mengapa semburan lumpur lapindo terjadi? Jawabannya sederhana, karena kita tidak patuh dan tunduk kepada Allah dan kita tidak bertanggung jawab atas sumberdaya alam yang telah diamanahkan kepada kita. “Apakah kamu tidak berpikir?”(Q.S 2:44)
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”
(Q.S Al-A’raaf 96)
* Mahasiswa Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan IPB
